Tampilkan postingan dengan label Status FB Bermanfaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Status FB Bermanfaat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2013

KABAR GEMBIRA DARI KUNJUNGAN PROF. DR. ABDURRAZZAQ AL BADR DI JOGJA (AHAD, 21 APRIL 2013)

Alhamdulillah, kami mendapatkan kabar gembira dari kunjungan Prof. Dr. Abdurrazzaq (Dosen Aqidah UIM) di Masjid Kampus UGM pada Ahad sore/malam kemarin, kabar gembira ini di posting oleh beberapa teman di status FB mereka, berikut penuturan mereka tentang kabar gembira tersebut: 

1.] Ginanjar Indrajati Bintoro
"Alhamdulillah... Dalam kunjungan Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad, di ruang dalam Masjid Kampus UGM ini melihat para ustadz "lama" reuni dengan suasana penuh keakraban. Ustadz Abu Nida' & Ustadz Ja'far Umar Thalib ..." 
(http://www.facebook.com/ginanjar.indrajati/posts/4878375356637)

2.]  Ustadz Aris Munandar, M.P.I 
"di ruang dalam Maskam UGM. ada yang nyebut ust afifi duktur [dalam bahasa percakapan arab, dokter terkadang disebut duktur]. ust ja'far komentar, "dokter [gigi, ed] yang belum lulus". ada yang komentar, "ust afifi itu lolos dari KG bukan lulus". sambil nunjuk ke arah ust ja'far, ust afifi sambil tersenyum berkomentar bahwa ust ja'far yang jadi sebab beliau 'lolos' dan tidak lulus. ust ja'far dan yang lain termasuk saya tertawa lepas." 
(http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=137009239818553&id=100005284324087)

3.] Ustadz Jafar Shalih 
"Jikalau kehadiran 1 atau 2 orang awam ke pengajian sunnah sudah menggembirakan hati seorang sunni, bagaimana jika yang hadir adalah seorang Jafar Umar Thalib?! Tidak perlu galau merespon fenomena indah ini!"
(http://www.facebook.com/jafarsalihsiregar/posts/10201055376570640)

Alhamdulillah, semoga dakwah salafiyah semakin berkibar di bumi nusantara ini, amin. 

Jumat, 12 April 2013

MODUSSSS!!!... (153 MALAM -BAG.5-)





Malam pertama di bui ana tidur di lantai (bawah) tepat depan pintu kamar mandi. Lantainya begitu sempit dan dingin, dengan lebar sekitar setengah meter dan panjang sekitar 3 meter. Ana terpaksa tidur di lantai bawah dikarenakan tidak mau membayar 'kommit' (uang kamar/commitment). Seandainya ana membayar uang kamar atau menyetujui kommit yang diberikan oleh KM (Kepala Kamar) sesuai dengan jumlah yang disepakati, maka ana akan mendapat beberapa fasilitas dan pelayanan kamar. Berhubung ana tidak 'kommit' akhirnya ana pun disuruh tidur di bawah tanpa alas sama sekali. Keadaan seperti ini masih bisa ana terima walaupun terasa berat, apalagi ana tidak terbiasa tidur di lantai tanpa alas. Ana harus siap merasakan keadaan seperti ini selama di bui entah beberapa lamanya.

Di lantai tempat ana tidur diisi oleh 2 orang tahanan yang senasib, sehingga kami berjumlah 3 orang, dan jika ada orang yang ingin masuk ke kamar mandi, maka harus melangkahi kami terlebih dahulu, ditambah lagi hawa dingin yang berasal dari kamar mandi, sehingga kami harus siap untuk masuk angin dan kedinginan. Sebagian yang lainnya tidur di atas yang beralaskan tripleks, ada juga yang di bawah dan beralaskan tripleks, dan yang lainnya di aula yang berukuran agak luas. Mereka masih lebih baik dan nyaman daripada kami yang tidur dibawah tanpa alas dan depan kamar mandi, karena mereka masih sedikit mendapatkan kehangatan dan tempat yang agak leluasa.

Seharusnya ana masih lebih bersyukur karena masih ada yang lebih parah kondisinya. Orang yang disebelah ana harus tidur dalam keadaan tersiksa karena menahan rasa sakit bekas 'digulung' oleh para tahanan ketika masuk bui. Dia tidak mampu untuk tidur karena seluruh badannya memar, bahkan untuk bicara saja sulit baginya. Ana pernah mencoba menolongnya untuk memberinya minum ke orang tersebut, namun ana malah dilarang oleh para tahanan dengan berkata, "Kamu orang baru jangan macam-macam! Siapa yang suruh kasih minum ke dia! Gak perlu dikasihani dan ditolong, itu hanya MODUS!!! (Modus = Dusta/rekayasa)." Ya sudah, daripada bermasalah akhirnya ana biarkan orang tersebut, walaupun merasa kasihan dengannya, lagipula melihat status ana yang masih 'orang baru' jadi harus bisa membaca kondisi lebih dahulu.

Seorang tahanan bercerita kepada ana, "Kamu disini masih lebih baik daripada saya. Ketika baru masuk, saya disuruh tidur di dalam kamar mandi sambil duduk diatas botol. Ada juga beberapa tahanan yang senasib. Sangat menderita apa yang saya alami waktu itu. Tidak ada satupun yang menolong. Jika saya tidak melakukannya, maka akan mendapat perlakuan yang lebih buruk dari itu. Saya sampai menangis dan tersiksa."

Sabtu, 09 Maret 2013

NASI CADONG (153 MALAM -BAG.4-)

Malam ini merupakan makan malam pertama ana di bui. Semuanya berkumpul duduk di lantai membuat lingkaran dan saling berhadap-hadapan. Agak tegang rasanya menunggu makan malam kami dibagikan. Ingin segera tahu seperti apa makanan penjara itu, karena selama ini ana hanya mengetahui dari beberapa sumber dan belum melihat langsung. Namun sesaat lagi ana akan melihatnya bahkan akan merasakannya, seperti apa makanan penjara itu yang kata orang 'menyeramkan' seperti tempatnya?

Tidak lama datang pelayan kamar membawakan beberapa box makanan untuk kami. Setiap orang mendapat jatah 1 box makanan yang isinya terdiri dari nasi, lauk dan sayur. Setelah dibagi-bagikan box makanan tersebut, ana pun melihat isinya, apakah menu makan malam yang akan ana santap? Setelah ana melihatnya, rupanya menunya biasa saja menurut ana, tidak ada yang aneh, hanya saja menunya bukan termasuk menu kesukaan ana, bahkan menu itu adalah menu yang tidak ana suka dan ana enggan memakannya. Makanan yang tidak mengenyangkan karena sedikit ukurannya. Ana pun menyantapnya lantaran saking laparnya. Namun pada suapan pertama ana merasa kaget...rasanya?!....iya rasanya! Rasanya aneh sekali menurut ana. Walaupun menu itu adalah menu yang biasa orang memakannya tapi rasanya sangat berbeda sekali, bahkan ana belum pernah merasakannya. Terasa tidak enak di lidah, bahkan hampir tidak memiliki rasa alias tawar! Ana terus terang tidak berani berkata macam-macam tentang makanan penjara khawatir termasuk mencela makanan. Intinya, makanan tersebut adalah makanan yang memiliki cita rasa yang berbeda sekali dengan makanan normal. Ana pun terpaksa memakannya karena lapar dan tidak ada lagi yang bisa dimakan selain itu. Untungnya ana pernah berlatih dan sedikit memiliki kemampuan survival (bertahan diri) karena ana seorang pecinta alam atau pendaki gunung yang wajib memiliki kemampuan untuk survival, sehingga ana dibutuhkan untuk dapat mengkonsumsi segala sesuatu untuk bertahan hidup, seperti meminum air mentah, memakan makanan dalam kondisi apapun (seperti mentah, tidak enak, dll) selama masih layak dimakan dan halal.

Ana berusaha untuk tidak mengeluh dalam kondisi apapun, begitu juga dalam kondisi memakan makanan penjara. Mau tidak mau ana habiskan makanan tersebut, daripada ana sakit dan lemah jika ana tidak memakannya. Ana anggap ini bagian dari survival yang ana pelajari, bedanya ini di dalam ruangan dan bukan di hutan. Memang terasa berat untuk mengunyah makanan tersebut sehingga ana paksa untuk menelannya secara langsung agar tidak berlama-lama menikmati hidangan yang akan ana konsumsi selama beberapa bulan kedepan. Walaupun ana pernah merasakan hidup serba kekurangan dan pernah juga bergaul dengan orang-orang miskin, namun ana belum pernah memakan makanan yang rasanya seperti makanan bui ini. Bahkan mereka yaitu orang-orang miskin masih lebih baik makanannya dari makanan bui ini (sebatas yang ana ketahui, walaupun banyak juga orang miskin yang sama makanannya atau lebih parah).

Rabu, 27 Februari 2013

MALAM PERTAMA DI BUI (153 MALAM -BAG.3-)



Kondisi semakin parah, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Waktu berjalan tidak sesuai dengan apa yang ana inginkan. Ana tinggal menunggu detik-detik penghabisan…pasrah terhadap kejadian ini…tidak ada yang dapat menolong ana saat itu kecuali Allah Azza wa Jalla…akankah nasib ana akan seperti Kijang Baru itu yang terkapar kesakitan?

Adapun ust.FA seperti sudah diatas angin, dia telah berhasil memprovokasi para tahanan dengan fitnah-fitnahnya, sehingga para tahanan semakin membenci ana. Dia bahas segala perbedaan-perbedaan pemahaman dan amalan agar semakin memperkeruh suasana, selain itu juga dia sebarkan fitnah-fitnah terhadap pemahaman ana yang dituduh sebagai Wahhabi agar manusia menjauhi pemahaman tersebut dan menganggapnya sebagai pemahaman sesat dan menyesatkan. Ana masih banyak diam di hadapannya, karena bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengannya saat ini. Padahal dia selalu memancing-mancing perdebatan agar kami saling berdebat dan disaksikan oleh seluruh tahanan, namun ana berusaha menghindari perdebatan dengannya dengan mengalihkan pembicaraan. Tapi tetap saja ust.FA tidak mau menyudahi orasinya.

Suasana di dalam tahanan semakin heboh oleh teriakan-teriakan penghuni tahanan. Terus terang ana merasa kasihan kepada para tahanan di dalam, mereka sangat awam terhadap agamanya sehingga mudah sekali dibodoh-bodohi dan diprovokasi oleh seseorang. Seandainya mereka dibimbing oleh seseorang yang bersih aqidahnya, maka betapa beruntungnya mereka, namun sayangnya mereka malah dibimbing oleh seseorang yang memusuhi sunnah dan banyak melakukan kebid'ahan, sehingga mereka malah semakin jauh dari agamanya.

Jumat, 22 Februari 2013

WELCOME TO CRIMINAL (153 MALAM -BAG.2-)

Hari itu ana resmi ditahan di sebuah Rutan (Rumah Tahanan) di salah satu Polres. Ana terjerat kasus pencemaran nama baik seorang Habib dan Undang-undang ITE. Setelah ana selesai menandatangani Surat Penahanan, ana pun dibawa oleh salah seorang penyidik (polisi) menuju kamar tahanan yang tidak jauh dari ruangan tempat ana diproses. Berat langkah ana menuju kamar tahanan tersebut, sedangkan hati saat itu terasa berdebar-debar karena sesaat lagi ana akan merasakan suatu kehidupan yang belum pernah ana rasakan seumur hidup ana, kehidupan yang dapat merubah segalanya, kehidupan yang hanya ada di angan-angan, namun sesaat lagi akan menjadi kenyataan. Adapun keluarga ana, yaitu istri, orangtua dan kedua anak ana yang masih kecil tampak sedih mengiringi langkah ana menuju kamar tahanan itu. Ana berusaha untuk tenang dan tidak menampakan kesedihan agar keluarga ana tidak semakin larut dalam kesedihannya. Ana tidak membawa apapun ke ruang tahanan, yang ana bawa hanya pakaian yang menempel di badan.

Akhirnya sampailah ana di depan kamar tahanan. Kamar tahanan itu dijaga oleh beberapa petugas polisi. Penyidik yang membawa ana memberikan surat penahanan kepada petugas tersebut. Setelah itu sang petugas memberitahukan kepada ana tentang segala peraturan di dalam kamar tahanan, diantaranya adalah pakaian yang boleh dibawa masuk maksimal 2 stel yaitu 1 stel yang menempel di badan dan 1 stel yang disimpan, tidak boleh memakai baju lengan panjang dan celana panjang (termasuk sarung), jadi wajib memakai celana pendek, dilarang memiliki uang, alat komunikasi (termasuk hp), merokok, memakai alas kaki, senjata tajam atau yang dapat melukai (seperti besi, pecah belah), berkelahi, dsb. Petugas menyuruh membuka jaket dan celana panjang yang ana kenakan sekaligus memeriksa seluruh badan ana. Ana katakan kepada petugas, “Bagaimana saya shalatnya pak?” Petugas menjawab, “Kamu pakai celana pendek, ini peraturan dan darurat, kalau kamu tidak punya celana pendek maka celana panjang kamu akan saya gunting jadi celana pendek!” “Baik pak, saya punya celana pendek…” jawab ana, untung saja ana memakai celana pendek untuk dalaman yang panjangnya dibawah lutut, sehingga ana masih bisa menutupi paha dan lutut ana. Tinggallah kaos dan celana pendek yang ana miliki saat itu sebagai bekal selama ana di dalam tahanan. Ana sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang ana miliki, yang ana pedulikan saat itu adalah keselamatan untuk diri ana dan keluarga ana yang ditinggalkan. Selama ini ana hanya mendengar tentang cerita atau pengalaman orang yang masuk penjara berupa cerita-cerita yang menakutkan dan menyedihkan, cerita yang tidak jauh dari penindasan dan pemerasan. Akankah hal itu ana alami sesaat lagi?

Kamis, 21 Februari 2013

Berbagi Pengalaman (153 Malam -bag 1-)


153 MALAM (BAG. 1 -TRUE STORY-)

Sore itu ana turun dari sebuah angkot di kota Bogor sambil membawa tas punggung (daypack) yang penuh dengan barang belanjaan dan menenteng sebuah dus karton yang juga berisikan barang belanjaan. Kali ini ana berbelanja kebutuhan toko tanpa membawa kendaraan pribadi alias motor, ana lebih suka dengan berjalan kaki atau menaiki kendaraan umum sambil membawa beban berat, hitung-hitung sambil berolah raga agar stamina bisa selalu terjaga. Beban yang ana bawa kali ini lumayan berat sekitar 15 kg di tas dan 10 kg ditentengan, hampir menandingi beban yang ana bawa tatkala mendaki gunung. Namun itu tidak masalah bagi ana karena hal itu sudah menjadi kebiasaan ana, apalagi jika sewaktu-waktu ada panggilan mendadak untuk mendaki gunung ana tidak akan kaget nantinya.