Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2014

Perjalanan Admin Infoforkisma dan Ahlussunnah-batang ke Degolan Yogyakarta (30 Desember 2013)

YOGYAKARTA (ahlussunnah-batang.blogspot.com) - Alhamdulillah, pada hari Senin 30 Desember 2013 kemarin, kami (admin ahlussunnah-batang.blogspot.com bersama dengan admin infoforkisma.wordpress.com) melakukan kunjungan ke Ponpes Ihya As Sunnah Yogyakarta yang diasuh oleh Ustadz Jafar Umar Thalib, dan berikut adalah reportase perjalanan tersebut, sebagaimana yang dirilis oleh infoforkisma.wordpress.com ;

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Senin 30 Desember, dipenghujung tahun 2013 M, admin infoforkisma dan admin Ahlussunnah-Batang melakukan perjalanan ke kota Yogyakarta. Tujuan perjalanan kali ini adalah Ponpes Ihyaas Sunnah. Sebuah Pondok Pesantren yang terletak di Jl. Kaliurang km.15 Umbulmartani, Ngemplak-Sleman. Disinilah Ustadz Ja’far Umar Thalib sehari-hari mengajar muridnya di sebuah masjid kecil di komplek pondok tersebut.

Tiba di Ponpes Ihyaas Sunnah kami istirahat sebentar di masjid pondok. Ketika itu sedang ada beberapa santri yang belajar didalam masjid. Terdengar jelas mereka sedang menghafal hadits dengan suara keras. Dipandu oleh seorang pengampu, anak-anak kecil yang usianya belasan tahun itu tampak semangat menghafal.

Suasana lingkungan pondok yang tenang (bahkan cenderung sepi) membuat kami berjalan melihat suasana sampai kemudian kami bertemu dengan Ust . Abdul Hakam di kantor pondok. Perbincangan hangat mulai mengalir tentang kondisi pondok, sistem pelajaran dan tentang dakwah ahlussunnah dewasa ini.

“Disini anak-anak belajar dengan sistem mulazamah sampai beberapa tahun. Nanti kalau mereka mau melanjutkan ya kami persilahkan. Mau ke Yaman atau yang lain” begitu kata beliau. Kemudian kami menyinggung soal majalah Salafy yang baru diterbitkan kembali. “Ya insyaAllah kami akan terbitkan. Begitu materi siap dan semuanya siap, ya kita cetak. Dakwah tidak harus ditentukan dengan waktu” ujar beliau yang ketika itu tampak santai di kantor pondok.

Terkait dengan dakwah, beliau menasehatkan sebuah nasehat yang patut kita ingat. “Dakwah ahlussunnah itu menutup segala pintu perpecahan. Benar perbedaan dan perpecahan akan terjadi namun kita harus berusaha untuk menutup pintu tersebut. Bukan malah kita membuka pitu perpecahan” kemudian beliau menceritakan bagaimana usaha Utsman bin Affan Radliallahuanhu untuk menyatukan kaum muslimin dalam masalah bacaan Al Quran. Selain itu beliau juga menyinggung soal bahaya syiah dan pentingnya membendung meluasnya syiah di Indonesia.


Menemui Ustadz Ja’far Umar Thalib
Setelah kami berbincang hangat dengan Ust Abdul Hakam di ruang tamu kantor, kami kemudian ijin untuk menemui Ust Jafar Umar Thalib yang ketika itu berada dirumahnya. Berjalan beberapa meter dan masih dilingkungan pondok, kami mencoba mengetuk pintu pekarangan rumah ustadz yang bercat putih tersebut.

“Assalamualaikum”
“Wa’alaikum salam warahmatullah, mari-mari…ahlan” sambut beliau dengan senyum dan wajah yang ceria. Kami menyalami beliau dan beliau mempersilakan duduk. Beliau tampak sedang berbincang santai diteras rumah ketika itu. Dari teras terlihat perpustakaan pribadinya yang berisi banyak kitab berjejer rapi.

Saling menanyakan kabar, admin Ahlussunnah Batang memulai pembicaraan dengan kegiatan dakwah yang ada di Pekalongan. Beliau menceritakan awal mula berdirinya pondok yang ada sekarang.

“Tahun 94 saya mulai disini. Dulu awalnya ngontrak. Akhirnya Allah kasih rejeki sehingga bisa seperti ini”. Tentang keberadaan pondok yang berdampingan dengan rumah penduduk beliau mengatakan “Ya. Kita nyatu sama penduduk alhamdulillah”

Ketika ditanya tentang rencana pengajian di Solo, beliau mengatakan mungkin dalam waktu dekat akan ke Solo. Diantaranya akan membahas tentang manuver Syiah yang makin meresahkan. Beliau menasehatkan supaya pihak pemerintah ikut berperan aktif dan memanfaatkan lembaga yang sudah dibentuk dalam mewaspadai dan menindak gerakan aliran sesat. Obrolan semakin hangat dan beliau sangat bersemangat dalam menyampaikan seakan-akan beliau sedang mengisi kajian. Beliau berharap agar gerakan terselubung Syiah segera dihentikan.

Mendung semakin menghiasi langit Jogja ketika itu. Suasana jalan Kaliurang km.15 semakin mendung menjelang dzuhur. “Sudah beberapa hari ini sini ndak hujan” begitu kata beliau. Sebelum waktu dzuhur tiba, kami pun pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan. (CAN]


Sabtu, 23 November 2013

Majalah SALAFY [reborn 2013]


PEKALONGAN (ahlussunnah-batang.blogspot.com) Pada pertengahan tahun 90-an, ketika dunia Islam Indonesia mulai tercerahkan dengan dakwah salafiyah yang dibawa oleh Ustadz Jafar Umar Thalib dan majalah SALAFY nya, saat itu saya masihlah seorang anak-anak, Sehingga momen-momen indah masa awal dakwah salafiyah di Indonesia tidak melibatkan saya sebagai salah satu pelaku sejarah. 

Masa-masa indah dimana Ust. Jafar masih duduk bersama Ust. Yazid sebagai staf ahli majalah As Sunnah yang kala itu tercetak kecil seperti buku tulis , saya tidak menjumpainya, Atau masa-masa panas dibentuknya laskar jihad pun, saya tidak tahu apa-apa.

Hingga masa-masa awal fitnah sururiyah, saya juga tidak ngeh saat itu. Namun alhamdulillah, malam ini bersama dengan terselenggaranya Pengajian Umum Rutin dengan pemateri Ust. Jafar, (link : http://www.ahlussunnah-batang.blogspot.com/2013/11/ahlul-bait-membenci-syiah-kajian.html ) mata saya tertuju pada tumpukan majalah yang agaknya asing di mata saya, ketika melangkahkan kaki masuk ke tempat kajian yang dijual oleh salah seorang panitia...Hingga akhirnya saudara saya yang juga menghadiri pengajian membelinya, ternyata majalah tersebut adalah majalah SALAFY! Majalah yang fenomenal itukah? Edisi tahun berapa? Memangnya masih terbit? 


Maka saya pun memastikan, dan tercetak di halaman muka majalah tersebut . Majalah SALAFY edisi 01, Dzulhijah 1434 - Muharam 1435, November 2013 dengan Headline News, Hikmah Dakwah Salafiyah. 

Allahu akbar!

Akhirnya saya membeli majalah SALAFY edisi pertama ini! (aaga)

Minggu, 30 Juni 2013

Amerika Membantu Mujahidin Suriah? SO WHAT GITU LOCH!

PEKALONGAN (ahlussunnah-batang.blogspot.com) - Alhamdulillah Pengajian Umum dan Penggalangan Dana Untuk Kaum Muslim Suriah telah berlangsung dengan lancar pada Jumat (28/06) kemarin. Pengajian Umum yang disampaikan oleh dai dari Jogjakarta, Ustadz Abu Saad, M.A, tersebut mampu menggugah kesadaran ratusan jamaah yang memadati Masjid Imam Syafi'i untuk berinfak membantu saudaranya di Suriah. Terbukti hanya dalam waktu kurang lebih satu jam saja, yakni selama berlangsungnya pengajian tersebut, telah terkumpul sumbangan lebih dari 38 juta rupiah. Allahu akbar! Sumbangan dari para jamaah diserahkan secara simbolis oleh pengurus Masjid Imam Syafi'i, Ustadz Said, kepada Ustadz Abu Saad, M.A di akhir acara untuk kemudian disalurkan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin di Suriah pada 18 Juli 2013 mendatang oleh Ustadz Abu Saad, M.A.

Ada hal yang menarik pada pengajian kali ini, yakni berkaitan dengan pemberitaan di sejumlah media yang mengabarkan bahwa mujahidin Suriah dibantu oleh Amerika Serikat, sehingga terkesan mujahidin Suriah adalah boneka Amerika yang digunakan untuk merongrong pemerintah syiah Suriah. Maka Ustadz Abu Saad, M.A memberikan jawaban cerdas dan telak atas pernyatan tersebut, "Bila memang mujahidin di bantu Amerika lantas kalian mempermasalahkan, maka Pemerintah Suriah pun didukung oleh Cina, Rusia, dan Korea Utara mengapa kalian diam?" Terang beliau dihadapan para jamaah. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, "Jika pun seandainya benar Amerika membantu mujahidin, maka ini hanya sekedar Amerika membolehkan senjatanya untuk dibeli oleh Kuwait, atau Saudi dan kemudian diberikan kepada mujahidin. Tidak mungkin Amerika mau membantu secara gratis!" Imbuh dai yang juga tercatat sebagai pengajar di Ponpes Jamilurahman Jogjakarta ini. (aaga)

Senin, 01 April 2013

Dukungan Kerajaan Arab Saudi Untuk Kemerdekaan RI

Pada resepsi pengakuan Mesir atas kemerdekaan dan kedaulatan RI, pada petang Senin 9/6/47, kelihatan H. Agus Salim (Ketua Delegasi RI - kanan) dan Pangeran Faisal (Menlu Saudi Arabia - tengah) bercakap-cakap, sedang HM Amin Husaini (Mufti Besar Palestina - kiri) menunggu gilirannya.

sumber : 

Sabtu, 23 Juni 2012

Oleh-Oleh Kajian Ust Jafar Umar Thalib (Pekalongan, 22 Juni 2012)

Bismillah,
ada hal menarik yang saya temui ketika menghadiri Pengajian yang diisi oleh Ust Jafar Umar Thalib kemarin malam. Saat memasuki sesi tanya jawab, seorang hadirin bertanya : "Apakah betul salafi itu berpecah belah?". Deg....... Saya pun ikut merasa tegang ketika mendengar pertanyaan tadi. Hal tersebut karena, agaknya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang "sensitif". Mengingat latar belakang beliau (Ust Jafar) yang pernah mentahdzir beberapa da'i, sehingga -sampai sekarang- efeknya masih terasa yakni kabar perpecahan dikalangan salafiyyin.

Ala kulli hal, alhamdulillah, jawaban beliau sangat menyejukkan, "Tidak, tidak ada perpecahan di kalangan salafi" kata beliau. Kemudian beliau menjelaskan bahwa yang ada adalah bentuk saling menasehati diantara salafi, dan memang kadang nasehat tersebut agaknya terkesan "keras" -mak klothak- dan itu biasa, beliau menjelaskan. Ketika Syaikh Al Hajuri "bersitegang" dengan Syaikh Al Mar'i, maka ini adalah bentuk saling menasehati, bukan berpecah! Lihatlah, ketika Dammaj yang merupakan Markaz Dakwah Syaikh Al Hajuri di serang oleh Syiah, semua masyayikh menyatakan agar seluruh kaum muslimin membantu Dammaj, termasuk Syaikh Al Mar'i, beliau pun membantu Dammaj! 

"Coba, kalian tanya kepada yang kalian anggap berpecah itu. Tanya pada kelompok yang ini, siapa gurumu? Oh guru saya Syaikh Rabi'. Nah coba tanya pada kelompok  yang lainnya, siapa Syaikh Rabi' itu? Oh, beliau adalah guru kami. Nah, gurunya saja sama, bagaimana dikatakan berpecah?" imbuh beliau.

semoga bermanfaat.

Abu Abdullah (23 06 12)




Senin, 18 Juni 2012

Oleh-Oleh Kajian Ust Farid Okbah, M.Ag (Pekalongan, 16 Juni 2012)

Alhamdulillah, pada Sabtu malam, 16 Juni 2012 kemarin, saya bersama sejumlah ikhwan menghadiri Kajian yang di selenggarakan oleh Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Pekalongan, bertempat di Gedung Pertemuan Umum Al Irsyad Al Islamiyyah Pekalongan dengan narasumber Ustadz Farid Achmad Okbah, M.Ag dari Jakarta. Kajian yang mengusung tema "Syiah Rafidhah, Siapa Mereka?" berlangsung dengan lancar, alhamdulillah, dibuka dengan sambutan dari pihak panitia serta pembacaan Al Quran oleh seorang santri kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video tentang Syiah dengan durasi sekitar 30 menit. Dalam video tersebut digambarkan aktifitas keagamaan kelompok Syiah di Indonesia dan luar negeri. 

Kemudian, Ustadz Farid memberikan ceramah umum sekitar satu jam, beliau memaparkan sejumlah fakta tentang kelompok Syiah, berupa sejarah dan kesesatan-kesesatan mereka.

Di akhir acara panitia membagikan buku tentang aqidah Syiah (seperti gambar) secara gratis kepada seluruh peserta Kajian, alhamdulillah, semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada panitia dan Ust Farid, jazahumullah khairal jaza....

Abu Abdullah (18 06 2012)

Kamis, 03 Mei 2012

Modus Kejahatan Terhadap Muslimah Bercadar

Bismillah, 
telah datang sms kepada saya (admin) dari Al Akh Abu Nafisah -hafidzahullohu-, beliau adalah pengelola Radio At Taqwa Pekalongan, beliau menulis dalam sms-nya:

INFO... Ada kasus bru lg nyata. Hti2 trhdp tamu asing wlupun pke cdar..krn ada yg menyamar laki2 pke cdar.. Ini tlah trjd thd tmen dtambun.. kejadiannya bgni.. Ada 2 org akhwt pke cdar dtg brtamu, dkira sdra seiman, Pas disuruh masuk trnyata 2 wanita itu pria n lgsung memperkosa pemilik rumah n merampok. Trnyt pnjahat tu dah ngincar akhwat tsb sblumnya n dtgnya pas swaminy g da dirumah. Skrg dia shock berat. Hati2 thd tamu yg g dikenal.... Mohon infokan ktmen2 yg laen.. Syukron.

-SELESAI-
Semoga Alloh mengadzab para penjahat tersebut.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 13 April 2012

Mari Membandingkan

Bismillah, 

Bukankah dalam perkara akherat kita harus melihat orang di atas kita?

Na'am, mari kita bandingkan diri kita dengan para ulama (yakni orang-orang di atas kita dalam perkara akherat). Ulama yang akan kita bandingkan disini adalah ulama mutaakhirin (hidup di zaman ini), karena tak akan mampu bila yang kita jadikan bandingan adalah ulama-ulama salaf (terdahulu), semisal Abu Bakar (dari kalangan sahabat). Jangankan kita, Umar saja, yang sama-sama sahabat tidak mampu dibandingkan dengan Abu Bakar karena demikian mulianya beliau. Maka celakalah orang-orang yang mencela Abu Bakar, Celakalah orang-orang Syiah! Semoga Alloh menghancurkan mereka.

Na'am, mari kita bandingkan diri kita dengan ulama yang sejaman dengan kita, taruhlah Syaikh Al Albani. Apa yang membuat beliau demikian hebatnya dalam hal agama? Selain karunia yang Alloh berikan kepada beliau? karena memang karunia Alloh khusus diberikan pada person tertentu. Tetapi diluar hal tersebut, beliau laki-laki, kita juga laki-laki. Beliau hidup dijaman moderen, kita pun demikian. lalu apa yang membedakan? Beliau masya Alloh, seorang alim, ahli hadits. Kita?

Satu hal pembeda yang paling menonjol antara beliau dengan kita adalah azam. Ya, tekad-lah yang membedakannya. Tekad beliau kuat dalam perkara agama, sedangkan kita, tekad kita kuat dalam perkara dunia. Bayangkan saja, dalam sepekan, beliau hanya bekerja mencari nafkah selama lima hari saja, itupun dalam sehari beliau hanya bekerja selama tiga jam saja?! Selebihnya, beliau gunakan untuk belajar, menuntut ilmu. Demikian zuhudnya beliau dalam perkara dunia, namun "rakus" dalam perkara akherat, maka tak heran apabila beliau tumbuh menjadi sosok ulama robbani. Tidakkah kita ingin seperti beliau, minimal memiliki tekad seperti tekad beliau dalam perkara agama?

Bersemangatlah dalam perkara akherat dan agama, bersemangatlah dalam menuntut ilmu dan belajar, insya Alloh itulah jalan kebaikan.

Semoga bermanfaat.

Abu Abdillah.

Selasa, 10 April 2012

Bertemu Teman Lama

Bismillah, 
Sekitar dua atau tiga hari yang lalu, saya mampir ke warung bakso Pak No untuk membeli beberapa bungkus bakso. Tidak lama saat menunggu, datanglah seorang teman saya sewaktu SD. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, ternyata diketahui bahwa dia punya kios isi ulang galon di sebelah warung Pak No. Beberapa hal yang saya tangkap dari pembicaraan kami: 

- Teman saya mengira saya adalah anggota jemaah tertentu (sepertinya dia bilang HT atau JT), mungkin karena saat itu saya memakai gamis (pulang dari masjid mampir ke Pak No). Padahal saya tidak mengikuti jemaah apapun, apalagi HT atau JT. Silakan merujuk pada link berikut untuk wawasan keagamaan lebih luas http://muslim.or.id/manhaj/mari-mengenal-manhaj-salaf.html

- Teman saya mengira saya adalah aktifis dakwah, mungkin juga karena saat itu saya memakai gamis sehingga terkesan seperti aktifis dakwah. Padahal saya bukan aktifis dakwah, melainkan pasisif dakwah (mengambil ungkapan teman saya -hafidzahulloh-). Berdakwah itu berat, beberapa ulama dalam karya mereka diantaranya Imam Bukhari dalam kitabnya membuat bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan. Dakwah adalah bagian dari amal (perbuatan) yang didahului dengan ilmu. Tanpa adanya ilmu terlebih dahulu, yang ada bukannya kebaikan namun justru keburukan yang akan ditimbulkan. Kemudian Syaikh Muhammad At Tamimi dalam kitab beliau yang terkenal Ushul Tsalatsah juga menyebutkan perkara-perkara yang wajib diketahui oleh seorang muslim yakni Ilmu, Amal, Dakwah dan Sabar, sebagai realisasi dari firman Alloh dalam Surat Al Ashr. Perhatikanlah, para pembaca -rahimakallohu-, ilmu selalu mendahului dakwah, artinya untuk berdakwah haruslah berilmu terlebih dahulu. Adapun saya? Tahap yang paling tepat bagi saya saat ini adalah untuk berilmu (yakni menuntut ilmu/belajar) dan belum mampu untuk pada tahap berdakwah apalagi deisebut sebagai aktifis dakwah, tentu jauh panggang dari api, dikarenakan ilmu yang masih minim dan keterbatasan yang lainnya. Silakan merujuk pada link berikut untuk mengetahui tentang metode berdakwah yang benar http://abumushlih.com/fiqih-dakwah-rasulullah-shallallahu-%E2%80%98alaihi-wa-sallam.html/

Yang terakhir teman saya ini -semoga Alloh memberi petunjuk kepada nya dan kepada saya- mengira saya ketika menikah menggunakan cara nikah sirri. Maka apa yang dimaksud dengan nikah sirri di sini? Apakah nikah tanpa wali perempuan? Ataukah nikah dengan diam-diam tanpa diketahui oarang lain? Apakah nikah tanpa dokumen resmi negara (tanpa melalui KUA)? Atau? Atau?
Tidak, sekali kali tidak, saya menikah resmi melalui KUA, dengan wali perempuan, dan diketahui oarang lain (saksi-saksi). Mungkin saja teman saya ini mengira saya nikah sirri karena tidak ada acara "rame-rame" seperti mengadakan pesta, pertunjukan wayang, atau dangdut atau karena pengantin tidak dipajang berdua di depan tamu undangan layaknya yang terjadi di masyarakat. Maka jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah karena hal-hal di atas (pernikahan digelar dengan mewah, adanya pertunjukan wayang atau dangdut dan dipajang di depan tamu undangan) adalah hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Menikah asalkan terpenuhi rukun dan syaratnya maka sah! Adapun perkara adat kebiasaan seperti pesta pernikahan maka harus ditimbang dengan timbangan agama, apabila sejalan dengan agama maka hal tersebut adalah perkara mubah, namun bila bertentangan dengan agama maka menjadi harom. Silakan merujuk pada link berikut untuk mengetahui tata cara pernikahan yang syari http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1218

Barokallohu fiikum

100412
Abu Abdillah

Kamis, 05 April 2012

Apakah Yang Anda (Orang Tua) Harapkan Dari Pendidikan (sekolah) Anak Anda

Bismillah, 
Ketika pertama kali mendengar tangisan anak kita yang baru lahir, sudah pasti sejuta asa dan harapan membumbung tinggi. Harapan yang sudah sering kita saksikan, "semoga menjadi anak yang berbakti bagi nusa, bangsa dan agama", demikian tertulis pada secarik kertas di dalam kotak makanan aqiqah-an. Na'am, lantas apa yang kita lakukan guna memujudkan harapan di atas? Salah satu langkah nyata untuk mewujudkan harapan tersebut adalah memasukkan anak-anak tersebut ke sekolah-sekolah yang "bermutu".

Kemudian, para bapak dan ibu yang semoga di rahmati Alloh, bagaimana kriteria sekolah yang anda idamkan untuk mengantarkan anak anda menuju gerbang kesuksesan layaknya harapan anda? Sekolah berstandar internasional dengan berbagai trofi kejuaraan yang mentereng? Sekolah bonafit yang menjanjikan pekerjaan yang menggiurkan? Atau berjuta janji keduniaan lainnya? Atau....

Tidakkah anda melirik sekolah islam? ya, sekolah islam. Tidakkah kita berpandangan jauh ke depan? apakah orientasi kita hanya dunia? Tidakkah kita berorientasi pada akhirat? 

Banggakah kita ketika anak kita menjadi dokter, atau pejabat, atau pengusaha? Banggakah kita ketika anak kita menjadi orang kaya yang makmur(?) hidupnya? 

Manakah yang lebih membanggakan anda? Anak anda hafal 30 juz Al Quran? Buah hati anda hafal Shahih Bukhori? Masya Alloh....

Tidakkah anda ingin untuk dipakaikan mahkota di kepala anda di akhirat kelak, dikarenakan anak anda hafal Al Quran?

Lalu kemana akan kita titipkan buah hati kita? Di Sekolah Umum? atau Sekolah Islam (baca_pesantren)? Semua tergantung pada pandangan (orientasi) anda, dunia? atau akhirat?

Barokallohu fiikum,

Semoga bermanfaat

Abu Abdillah

Selasa, 03 April 2012

Apa yang terlintas di benak anda jika...

Bismillah, 
Apakah yang (pertama) terlintas di fikiran (baca_hati) anda ketika anda:
1.  Sakit,
2. Sedang mengendarai kendaraan, dan tiba-tiba bocor pada ban kendaraan tersebut,
3. Dirampok atau dicopet?
4. Atau hal-hal lain dimana anda membutuhkan bantuan?

Apakah jawabannya berkisar seperti di bawah ini?
1. Sakit, bila anda sakit maka yang terlintas (biasanya) di fikiran anda adalah bagaimana segera mencari dokter atau obat?
2. Ban tiba-tiba bocor, maka yang terlintas (biasanya) di fikiran anda adalah bagaimana segera mencari tempat atau tukang tambal ban?
3. Dirampok atau dicopet, maka anda akan segera melawan? atau bisa jadi menyerah? berteriak minta tolong? atau segera ke kantor polisi / satpam terdekat?

Apakah jawaban anda berkisar seperti tebakan saya di atas?
Wajar dan manusiawi, saya pun demikian...

      Maka mari sejenak kita telaah kembali jawaban (reaksi) kita terhadap kejadian-kejadian (hal-hal) di atas. Kita, biasanya, secara umum segera mencari bantuan makhluk (manusia) ketika mengalami kesusahan? Tidakkah terlintas di benak kita, ketika pertama kali mengalami kesusahan, untuk segera mencari pertolongan kepada yang menciptakan obat dan dokter? yang menciptakan tukang tambal ban? yang menciptakan polisi?
    Ahsan, barokallohu fiikum (semoga Alloh memberkahi kalian), itulah ketawakalan yang sejati kepada Alloh, yakni bergantung kepada Alloh. bukan kepada makhluk, dalam segala keadaan! Maksudnya, bergantunglah kepada Alloh, baru kemudian mencari wasilah dengan berobat pada dokter atau mencari bantuan tukang tambal ban atau kepada polisi.
     Alloh berfirman "Barangsiapa yang bertakwa kepada Alloh niscaya dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan) nya" (Ath Tholaq: 2-3). 

Semoga bermanfaat

03042012
Abu Abdillah

Sabtu, 24 Maret 2012

Harga Mati

Bismillah, 
     Rencana pemerintah Indonesia untuk menaikkan harga BBM menyebabkan sejumlah elemen masyarakat turun ke jalan (baca_unjuk rasa) dan berorasi meneriakkan sejumlah kata-kata. Diantara banyaknya kata yang terlontar adalah kata "harga mati". Semisal, "BBM murah adalah harga mati" dan lain-lain dan lain-lain. Pun demikian diluar aksi unjuk rasa, kata "harga mati" sering kita dengar. Disejumlah media massa, penulis beberapa kali membaca sejumlah juru dakwah dengan lantang meneriakkan "NKRI harga mati", para pecinta sepakbola pun meneriakkan kata yang sama "Tim Sepak Bola xxx harga mati", atau para pengagum artis dengan percaya diri menuturkan "Oh artis fulan adalah idola saya, ndak ada yang lain, harga mati deh pokoknya".
     Alhamdulillah ala kulli hal, mari sejenak kita memperhatikan, apa sebenarnya makna kata "harga mati" itu?. Secara ringkas dari beberapa kamus yang penulis baca, maka dapat disimpulkan bahwa "harga mati" bermakna; harga/sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi.

Sabtu, 17 Maret 2012

Dakwah Salafiyyah Di Pekalongan

       Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh ta'ala, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosululloh Muhammad sholallohu alaihi wassalam, amma ba'du.
     Kota Pekalongan dengan jargonnya sebagai Kota Santri dan iklim religius yang sangat kental, alhamdulillah, dewasa ini telah berkembang dengan cukup pesat dakwah salafiyyah di Kota Batik ini. Dakwah yang mubarokah, mengajak ummat untuk mentauhidkan Alloh, berlepas diri dari bid'ah, syirik dan ta'ashub (fanatisme) golongan, memang sesuai dengan fitroh manusia. Sehingga tak heran apabila dakwah tauhid ini mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat, terbukti dengan banyaknya masyarakat yang mengikuti kegiatan-kegiatan kajian islamiyah bermanhaj salaf. 

Minggu, 07 Agustus 2011

Sekilas Nyunnah Tapi...

     Ketika jeda solat tarawih, seorang jamaah disebelah saya yang saya kenal dengan panggilan Pak Haji menawari sebentuk benda silinder kecil yang dalam benak saya, saya interpretasikan sebagai minyak wangi. Sejurus kemudian saya ambil benda tersebut dan segera saya oleskan ke dua lengan dan sebagian tubuh sebagai wujud aplikasi sabda Nabi shollallohu alaihi wassalam, “Tiga perkara yang tidak boleh ditolak: bantal-bantal, minyak wangi, dan susu.” (HR. At Tirmidzi dari Umar, dan terdapat di dalam Shahihul Jami’ [3046] dan Ash Shahihah [619] dan Shahih At Tirmidzi [2241]). Beberapa detik pasca pengolesan "minyak wangi" tersebut muncul reaksi panas dan bau menyengat, innalillahi.... ternyata benda silinder tersebut bukan minyak wangi tetapi minyak gosok aroma terapi! Terpaksa saya melanjutkan solat dengan kedua lengan terasa panas....
    Ala kulli hal, pun demikian terhadap perkara-perkara lain, tidak setiap perkara yang nyunnah adalah sunnah. Ahsan kita periksa terlebih dahulu segara perkara agama yang datang ke kita, apakah sesuai dengan sunnah Rosul atau sekedar gaya-gayaan sok nyunnah. Apa contohnya? Banyak.... Seperti yang sedang marak di bulan Romadhon ini, musik religi... Subhanalloh, nyunnah sekali kelihatannya. Penyanyinya mengenakan kerudung, syair-syairnya dipetik dari Kitabulloh atau sabda Nabi yang mulia. Tapi tunggu dulu, jangan kita tertipu dengan penampilan, perhatikan sabda Nabi berikut, Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik...." (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas). Jika dikatakan ‘menghalalkan musik‘, berarti musik itu haram. Dan lain sebagainya yang biasanya marak pada bulan Romadhon ini, semisal film islami, pacaran islami, partai islami, bank islami dan lain-lain dan lain-lain yang berembel-embel islami tetapi sebenarnya Islam berlepas diri darinya. So, tidak setiap yang nyunnah berarti  sunnah*.... waallohul muwafiq...


Kota berkembang, ba'da Tarawih, 8 Romadhon 1432 H
-AG-

*Sunnah disini adalah As-Sunnah menurut ulama Salaf yaitu petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i'tiqaad (keyakinan), perkataan maupun perbuatannya, bukan sunnah menurut ahli fiqih yaitu perkara yang tidak wajib yakni hukumnya sunnah.


Kamis, 04 Agustus 2011

Majelis Ngobrol

     Awal Romadhon tahun lalu, sekitar seminggu setelah kematian bapak, saya mengajak ibu datang ke pengajian yang sering dijuluki sebagai pengajian "salafi" (padahal penamaan pengajian salafi ini tidak disukai oleh sebagian ustadz salafi) di sebuah Masjid yang akhirnya menjadi markaz dakwah salafi di Pekalongan, alhamdulillah. Betapa senangnya hati ini ketika mengetahui ibu menyambut ajakan saya untuk datang ke pengajian tersebut, saya bergembira karena berharap ibu mendapat hidayah melalui pengajian itu. Karna bapak qodarulloh meninggal dan belum sempat menerima ajakan saya untuk mendatangi pengajian, yang diharapkan bisa sebagai wasilah bagi beliau untuk mendapat hidayah.
     Ala kulli hal, materi yang disampaikan oleh seorang ustadz pimpinan ponpes di Jawa Barat sangatlah menarik. Beliau menjelaskan tentang tafsir surat Al Ashr.
"Bagaimana bu pengajiannya?" Tanya saya kepada ibu seusai pengajian.
"Bagus, yang datang banyak juga ya yang arab." Jawab ibu.
"Iya, wong yayasannya juga dibentuk oleh orang-orang arab." Kataku menimpali.
"Tapi sayang mas (mas adalah panggilan ibu kepadaku) banyak yang ngobrol saat pengajian, padahal waktu ibu ikut pengajian ****** (nama sebuah ormas Islam) pesertanya diam ndak ada yang ngobrol, kok di sini malah suka ngobrol sendiri ya?" Keluh Ibu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
     Setahun berlalu, dan informasi yang sama saya dapat dari istri saya,
"Zauji, ummahat kalo kajian kok pada ngobrol ya?" Keluh istri saya suatu saat.
"Apa iya?" Saya balik bertanya
"Iya, mereka suka ndak ndengerin kajian, malah ngobrol sendiri-sendiri." Istri saya melanjutkan.
"Jangan ditiru, kita datang ke kajian bukan untuk ngobrol ya..." Saya mencoba menasehatinya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
     Dua keluhan saya terima dari dua orang yang cukup saya percaya pengakuannya, ibu dan istri. Kenyataan seperti ini yang membuat saya mengelus dada, ketakutan dakwah yang haq ini akan tercoreng karena perilaku yang tidak pada tempatnya dari justru beberapa pelaku dakwah itu sendiri . Jangan sampai orang yang baru awal mengaji kemudian malah lari menjauh, karena ia mendapati majelis pengajian tak ubahnya seperti majelis ngobrol....

waallahul muwafiq....

Kota Berkembang, Jelang Berbuka, 4 Romadhon 1432 H
-AQ-

Rabu, 03 Agustus 2011

Ndak Pacaran, Ndak Nikah....

     Sekitar enam atau lima tahun yang lalu, seorang teman berkunjung ke kamar kos saya. Kebetulan waktu itu saya nge-kos karena sekolah di luar kota. Pendek cerita, kami terlibat pembicaraan mengenai pacaran dan pernikahan. Teman saya ini, menjelaskan bahwa  untuk menikah tidak perlu pacaran terlebih dahulu. Serta merta saya -yang minim akan bekal agama- tidak bisa menerima, bagaimana mungkin bisa menikah tanpa pacaran?? Mustahil! Karena dalam benak saya saat itu bahwa pacaran adalah media untuk menuju pernikahan, ibarat hendak mencangkul tanpa cangkul, mustahil.... Tetapi rupanya teman saya ini tetap bersikukuh, bahwa pacaran dan pernikahan itu berbeda, tidak ada kaitannya. Alhasil, sekitar satu atau dua tahun kemudian teman saya ini menikah, dan ia membuktikan omongannya, menikah tanpa pacaran!
     Waktu terus berjalan, detik berganti detik, hingga tahun berganti tahun. Sekitar sebulan yang lalu, saya ditanya oleh seorang teman (bukan teman yang diatas), "Khi sudah siap nikah belum?". Sebenarnya, pertanyaan dengan model seperti ini sudah sering saya terima, namun selalu saja saya anggap angin lalu dan tidak pernah saya respon. karena bagi saya menikah butuh persiapan yang tidak sedikit. Namun entah mengapa, waktu itu saya segera merespon dengan jawaban, "Insya Alloh siap khi."